Surat Cinta Seorang Hecker

Humor...

Seandainya hatimu adalah sebuah system, maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu,tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouse proxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati whatever!



Seandainya hatimu adalah sebuah system, ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection Terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d,sehingga aku tau kalo di hatimu ada folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku?. apa aku harus pasang backdor "Remote Connect-Back Shell"jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja, biar aku tidak merana seperti ini.



Seandainya hatimu adalah sebuah system, saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus,aku akan jaga service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu aku akan pasang portsentry, dan menyeting error pagemu " The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone get out!" aku janji gak bakalan ada macelinious program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.



Seandainya hatimu adalah sebuah system, jangan ada kata "You dont have permission to access it" untuk aku, kalau ga mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah....! kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku.



Seandainya hatimu adalah sebuah system, ...?



Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system, kamu adalah sang bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku! Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan kalau di hatiku sudah terinfeksi virus yang Menghanyutkan, Ga ada anti virus yang dapat menangkalnya selain ...kamu.

Praktek Jurus Merayu Cewek

Humor...

Si Asep sedang membaca emailnya, dan ada artikel menarik tentang cara berkenalan dengan (baca: merayu) cewek. Salah satunya adalah dengan memulai perbincangan seperti berikut :



Cowok : "Maaf, mbak. Mbak punya obeng, ngga?"

Cewek : "Ha? Nggak.."

Cowok : "Kalo nomer hp punya kan?"



.....



Akhirnya, Asep Surasep ingin mencoba "rayuan maut" tersebut. Dan... Di suatu taman...



Asep : "Maaf, mbak. Mbak punya obeng nggak?"

Cewek : "Punya... Mau yang plus atau minus?"

Asep : "Eh?!?,..ngg..yang minus aja mbak. Kalo palu punya nggak?"

Cewek : "Punya juga.. nih.."

Asep : "(Damn..) ?? Kalo kunci inggris, ada nggak?" (dengan penuh pengharapan agar si cewek menjawab "tidak")

Cewek : "Ooo.. itu juga ada... dari ukuran 10 sampai 20. Mas mau yang mana?"

Asep : "(buset...).. DAAMMMN...!! F&^%**K.... To the point aja deh, mbak. Mbak punya nomer hape nggak?"

Cewek : "Ooo.. ini.. (sambil menyodorkan kartu nama dan brosur Ace hardware). Kalo mas butuh perkakas, hubungi saya aja. Saya kebetulan di bagian sales Ace Hardware, pusat perkakas yang terlengkap. Ace hardware gitu lho!!!..."

Asep : "....nasiiib...." (sambil pergi dengan tertunduk lesu..)

Pembantu di kerjain Luna Maya dan Cut Tari

Humor...

Pada suatu hari, percakapan telpon di sebuah rumah :

Telpon ke-1

Penelpon : Hallo…! Apakah ini kediaman Luna Maya?

Pembantu Rumah: Salah sambung…, ini kediaman keluarga Cut Tari



Telpon ke- 2

Penelpon: Hallo!! Apakah ini kediaman Luna Maya??

Pembantu Rumah: Eh.. salah sambung, goblok!!… ini kediaman keluarga Cut Tari



Telpon ke-3:

Penelpon: Halloooo….

Pembantu Rumah: Eeeh.. Lagi2 kamu!!.. Awas ya!! saya walau cuma pelayan, tapi bisa lapor polisi…

Penelpon: Apakah ini kediaman keluarga Cut Tari??

Pembantu Rumah: Aduuuh.. maaf2 yaaa…, tadi soalnya ada beberapa kali salah sambung. Mau cari siapa tuan.??

Penelpon: Luna Maya….

Pembantu Rumah: ??!!@#@$!!



Telpon ke-4

Penelpon: Halloooo…..

Pembantu Rumah: Kurang ajaaar..!!! Kamu nyawanya berapa hah!!!

Penelpon: Saya Cut Tari…..

Pembantu Rumah: Aduh..!!! Maaf majikan! sorry sekali, tadi ada orang gila telpon! ada perintah apa Nyonya.??

Penelpon: Segera panggil Luna Mayaa!!

Pembantu Rumah : Hah..!…. (semaput)



Telpon ke-5

Penelpon (suara beda): Hallooooo….. (suara berbeda dibanding telpon2 terdahulu)

Pembantu Rumah: (Oh ini suaranya lain…). Mau cari siapa Nyonya..??

Penelpon (suara beda): Ini kediaman keluarga CutTari??

Pembantu Rumah: Iya betul….

Penelpon (suara beda): Saya Luna Maya… , Apakan tadi ada orang cari saya???

Pembantu Rumah : ??@#$%^??… Gubraaaag!!…. (kejang2)

Rahasia Ayah

Coba sejenak kau lihat raut kelentihan dari wajah ayahmu, helai rambut yang memutih di kepalanya dan kau akan melihat betapa ayah, bapak atau papamu selalu menyayangimu dan menjagamu. Dan dibalik ketidaknyamananmu ada sebuah cinta yang selalu menjadi pelindungmu. Coba kau katakan sekali saja, ” Aku sayang sama ayah, bapak, papa. ” , kau akan melihat guratan senyum kebahagiaan dari raut bibirnya yang mungkin tidak pernah kau lihat sebelumnya. “

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa ?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu ? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian ?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “ Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya ” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi ?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “ Tidak boleh !”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu ? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut. Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang ? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa.”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu ? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…. kuat untuk pergi dan menjadi dewasa…

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan.

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “ Tidak…. Tidak bisa ! ” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “ Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu ”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “ Putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang ”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….

Saat Papa melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seseorang lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis ? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata : “ Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Papa telah menyelesaikan tugasnya.

Papa, Ayah, Bapak kita… adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “ KAMU BISA ” dalam segala hal..

Saya mendapatkan notes ini dari sebuah situs, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman perempuan ku , yang kini sudah berubah atau akan berubah menjadi perempuan dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman laki-laki ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah, Bapak, Papa kita… Tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya. 

Kisah Almarhum

Horror Story...

Aku punya Pakde, namanya Hasyim. Beliau kakak dari ayahku. Wajah mereka berdua tidak begitu mirip, tapi senyum mereka sangatlah identik. Pakde Hasy, begitulah aku akrab memanggilnya. Beliau menjadi pengganti ayahku selama ayahku bekerja di luar kota. Memang kami tidak begitu akrab, tapi kami sangatlah rukun.

Pakde Hasyim mempunyai istri bernama Aliya dan dua orang anak bernama Balqis dan Iqbal. Mereka tinggal di Indramayu. Hanya saat lebaran saja mereka berkunjung ke rumah nenek di Cirebon. Pakde Hasy bekerja sebagai dosen di sebuah Univ di Kalimantan jurusan Psikologi. Karena pekerjaannya yang membutuhkan waktu, maka beliau memutuskan tinggal di Kalimantan [sejak 2007 lalu], sementara keluarganya tetap tinggal di Indramayu sehingga mereka hanya berjumpa di hari-hari libur saja.

Terakhir aku bertemu dengan Pakde Hasy adalah lebaran 2010 kemarin saat beliau sekeluarga bersilaturrahmi kerumah nenek di Cirebon. Namun, tanggal 27 oktober 2010 kemarin, pagi-pagi sekali saat aku hendak berangkat ke sekolah, aku mendapat sebuah telephone dari Ibuku di Cirebon yang memberitakan bahwa Pakde Hasy telah meninggal dunia di Kalimantan pukul 3 pagi tadi.

Mendengar berita yang benar-benar menyedihkan itu aku langsung melupakan sekolahku [masih sempat SMS Catur _ minta izin_]. Aku bilang ke Bude Sofia [Budeku yang di Jogja] tentang berita duka tersebut. Langsung saja pagi itu Bude Sofia teriak-teriak memanggil santri-santrinya yang bisa mengemudikan mobil untuk mengantar kami ke Indramayu. Abror Jeem [sepupuku] yang pada waktu itu sedang sibuk memandikan motornya langsung di suruh memanggil Irfan [pak supir], agar cepat-cepat mengantar kami ke Indramayu. Dan satu lagi, Andre [sepupuku juga], yang kebetulan melintas didepan kami dipaksa ikut ke Indramayu. Seneng tuh anak…!

Singkat cerita, pukul 5 sore kami sudah sampai Indramayu. Ternyata jenazahnya sudah dikebumikan. Aduuh sedihnya, tidak bisa melihat wajah pakde untuk terakhir kalinya. Namun kami masih bisa melihat wajah istri beliau dan kedua anaknya. Aku iba melihat mereka.

Bude Aliya terisak sambil menemani para tamu di ruang tamu, Ibuku berada diantara mereka dengan Tyas [adikku] melingkar dipangkuannya. Sementara itu Balqis sedang duduk termenung dan Iqbal terisak ditemani Rifqi dan Giffary [sepupuku yang lain].

Disini disebutkan saudara-saudaraku yang lain, seperti Abror Jeem dan Rully Andre, mereka berdua sepupu dari simbah dari ibuku, Iqbal dan Balqis, mereka sepupu dari ayahku, Rifqi dan Giffary, mereka sepupu dari ibuku. Wajah Giffary mirip dengan temanku, Muhamad Hafidz Ryansyah. Dan Tyas adalah adikku.

Aku benar-benar Iba melihat mereka berdua. Walaupun kami tidak begitu akrab, tapi aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Aku dan Andre mencoba menghibur mereka, tapi gagal. Dalam suasana duka tersebut akhirnya Balqis yang merupakan kakak dari Iqbal berhasil menguasai diri, ia pun tidak sungkan-sungkan untuk bercerita tentang ayahnya.

Jadi, pukul 2 siang dua hari sebelumnya [minggu, 24 oktober 2010], Pakde Hasy menelpon Balqis dan memberitahu bahwa beliau akan pulang ke Indramayu hari rabu [27 oktober 2010]. Katanya beliau sudah sangat rindu dengan mereka berdua termasuk Bude Aliya. Dan ternyata benar, Pakde Hasy telah pulang ke Indramayu di hari yang di janjikan olehnya dan tidak akan pernah kembali lagi ke Kalimantan. Aku pun ikut menitikan air mata, sedih mendengar tutur kata dari mulut Balqis. Merinding aku saat kata-kata itu masuk kedalam benakku.

Pakde Hasy adalah orang yang sangat hebat. Beliau memiliki ciri khas khusus yang hanya di miliki olehnya [dikeluarga besar kami], yaitu batuk beliau yang nyaring dan merdu [apik nek ikut IMB] dan cara jalan beliau yang di geser, jadi jika beliau jalan kaki menggunakan sandal maka akan terdengar suara sangat bising.

Sejak beliau berangkat ke Kalimantan, kami _terutama Balqis dan Iqbal_ sangat merindukan ciri khas beliau tersebut. Namun anehnya seiring kematian beliau, ciri khas tersebut masih belum menghilang…

Katanya, orang meninggal itu arwahnya masih berada disekitar rumahnya selama kurang-lebih 40 hari setelah ia meninggal. Bener gak tuh?

Aku, Andre dan Bude Sofia memutuskan untuk bermalam di rumah duka, menemani Bude Aliya dan kedua anaknya. Begitupun dengan beberapa anggota keluarga kami yang lain, seperti Rifqi, Giffary dan orang tua mereka, kecuali Ibuku.

Aku tidur bersama Andre dan Giffary di kamar belakang. Jujur saja tidur kami tidak nyenyak. Wajah Pakde Hasy masih terngiang di dalam otakku, menari-nari, manantang duel dan seolah-olah mengajak kami terbang bersamanya.

Andre dan Giffary memutuskan main catur agar cepat ngantuk, sementara aku hanya jadi penonton mereka. Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara batuk. Ya! batuk!, batuk yang nyaring dan merdu, khas batuknya Pakde Hasy! Aku tersentak. Aku pikir cuman perasaanku saja. Tapi ternyata Andre dan Giffary pun mendengar suara yang sama.

Kami memutuskan untuk mengecek siapa gerangan yang batuk di tengah malam tersebut, tapi akhirnya kami berinisiatif untuk mengurungkan niat kami dan kembali bermain catur.

Untuk kedua kalinya suara batuk tersebut terdengar kembali. Kali ini lebih lama seakan-akan mengajak kami untuk keluar dan bergabung membentuk club batuk _dengan anggotanya yang berkomunikasi dengan cara batuk_. Kami benar-benar merinding dibuatnya.

Lalu dengan sigap, si Giffary menggapai HP-nya dan menyalakan MP3 dengan nyaring.

“heh udah malam ini, nanti dimarahin Bude, kayak rumah sendiri aja!,” kata Andre.

“masih mending denger lagu Avenged ato denger suara hantu batuk?,” bisik Giffary. Aku sih jujur masih mending denger suara mereka bertengkar. Ayo lanjutin bertengkarnya biar tuh hantu bosen batuk-batuk melulu dan cepet pergi karena di cuekin. Hei para pembaca pernah nonton film horror thailand yang judulnya Phobia? Di film itu si hantu marah karena di cuekin [kasian banget ya hantunya] hihihi.

Beberapa saat kemudian suara itu menghilang, di gantikan suara langkah kaki. Langkah kaki yang di geser. Suara langkah kaki itu mendekat dan berhenti di depan pintu kamar kami. Kami tinggal menunggu hitungan detik sebelum pintu terbuka dan mengetahui siapa yang ada di balik pintu yang memiliki suara kaki itu.

Benar saja, beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seorang anak berdiri disana. Kami dengan jelas melihat matanya yang sembab. Iqbal berlari masuk dan melempar dirinya di atas ranjang kami dengan ketakutan. Kami masih bingung dan terus bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat anak ini gemetar ketakutan. Lalu Iqbal pun angkat bicara:

“aku melihat bapa,” katanya singkat. Aku pengen nangis dengernya. Entah nangis karena sedih atau nangis karena takut. Andre dan Giffary membeku.

“tadi aku denger suara batuk dan langkah kaki bapa,” lanjutnya. “tapi aku bingung, itu mimpi atau bukan”.

Aku pengen terus terang kalau kami juga denger suara batuk dan langkah kaki itu, tapi aku takut malah membuat Iqbal semakin takut.

“aku tidur disini ya,” katanya lagi. Kami hanya mengangguk pelan. Dan tanpa menunggu rumput tumbuh, kami langsung naik ke ranjang dan memejamkan mata hingga pagi menjelang.

Esok paginya, aku menemukan Giffary sudah pulang ke Cirebon bersama keluarganya. Aku dan Andre pun memaksa Bude Sofia agar cepat pulang ke Jogja. Kebetulan pagi itu datang Bule Nunung [adik ayahku], sehingga ada yang menemani Bude Aliya.

Siang harinya, kami pun pulang ke Jogja, tapi sebelumnya kami mampir ke Cirebon. Dan malam harinya sekitar pukul 9 malam kami berangkat ke Jogja…

Kisah Ibu Wardhani dan anak-anak XII IPA3

XII IPA3 Story :

Kejadiannya bulan puasa kemarin (2010). Setting menggambarkan kelas XII IPA3 dimana sedang berlangsung mata pelajaran Biologi yang sedang diampu oleh Ibu Wardhani [Baca : Ibu Dhani]. Ibu Dhani selesai menerangkan tentang perkawinan (lho?) dipapan tulis, beliau pun menyuruh siswa/inya men-copy-paste hasil karyanya [Baca : tulisannya] dipapan tulis, setelah itu beliau duduk di kursinya.
Sambil menunggu siswa/inya selesai menulis, beliau duduk santai seraya memandang satu persatu siswa/inya kalau-kalau ada yang tidak melaksanakan tugasnya. Dan benar saja si Sembodo yang notabennya duduk paling depan malah terang-terangan gak nulis, dia malah sibuk memandang Jelita yang duduk disampingnya dengan pandangan datar. Maka dengan perasaan marah bercampur heran Ibu Dhani pun melontarkan pertanyaan kepada Sembodo;
“woi! Koe ngopo ndeloke wae Jelita? Cepet nulis!,” {kenapa kamu liatin Jelita saja? Cepet nulis!}.
“saya tidak kelihatan, Bu,” celetuk Sembodo.
“ra ketok pie? Alibi! Wong cedak kok ra ketok!,” {gak kelihatan bagaimana? Alasan! Orang deket kok gak kelihatan!}.
“Jelita kan gedhe!, apalagi kempolnya [Baca : betis],” [Dueeeenggg!!]. Otomatis lah seluruh anggota kelas yang pada saat genting seperti itu pada mbeku, langsung meledak tertawa.
Temon yang notabennya sebagai fans-nya Jelita pun menimpali, “wah, aku ngerti nek lagi puasa kui ora olih ngapusi, tapi nek ngono kui jenenge terlalu, Bod!” {aku ngerti kalau sedang puasa tidak boleh bohong, tapi kalau seperti itu namanya keterlaluan, Bod!}.
Terpaksa deh Ibu Dhani ikut tertawa. Wakakak…

Another story…
Seperti biasanya, setelah selesai menulis di papan tulis dan menerangkan maksud tulisannya, Ibu Wardhani pun duduk di kursinya dengan santai. Memberikan kesempatan siswa/inya menyelesaikan kewajiban mereka.
Setelah pandangan eagle-eye-nya memonitor kegiatan siswa/inya beliau menemukan sepasang anak-cicit Adam dan Hawa, yup! Mereka adalah Bowo dan Ariani. Karena melihat kelakuan mereka berdua yang sudah semakin nempel melebihi prangko, Ibu Dhani pun sepertinya ingin memberikan sepatah-dua patah kata buat mereka…
“wah! Tiap hari Bowo tambah ganteng aja ya,” sindirnya. Sontak Bowo dan Ariani pun membeku. Bahkan aku yang duduk dibelakang mereka masih sempat mendengar gumaman Ari, “iya”.
“apa? Tambah ganteng? Tambah gedhe iya! Kan susunya cocok,” salak Ridwan [Baca : kuda].
“ha?,” sentak aku dan Oki. Sampai sekarang aku masih gak tahu apa maksudnya Ridwan dengan kata ‘Susu’ tersebut.
“kayaknya dulu gak pernah duduk di depan deh,” lanjut Ibu Dhani. “kayaknya ada faktor lingkungan ya?”.
Anak-anak pun menjawabnya dengan antusias dan kompak, “iyaaa Bu, sebelah kirinya itu”. kebetulan sebelah kirinya adalah Ariani.
“bukan sebelah kirinya, tapi sebelah kanannya,” protes Ridwan alias Kuda. Kebetulan sebelah kanannya adalah Fahmi si Tik-Tok.
Arum yang duduk di belakangnya cekikikan gak jelas sama soulmatenya [Baca : Rafika].
Oki mendukung kata-kata Ridwan, “ciee, CLBK niee…”
Ibu Dhani tertawa garing…
“pie e, Ki,” garuk Bowo gak terima.
“ha pie? Maksudku Tik-Tok karo Jelita. Wkwk”. Hahahaha… kebetulan Jelita duduk disamping kiri Tik-Tok.
Ibu Dhani semakin menggila, dari tertawa garing menjadi tertawa girang. (gak jelas e)
Heri yang menyaksikan perang mulut mereka pun ikut nimbrung. “wah nek Tik-Tok karo Jelita, Temon [Baca : Ridwan Yuni] cemburu kih”.
“waah Eno!,” otomatis si Breggy dan Oki menggoda Eno. Kebetulan si Eno digosipkan jadian sama Temon beberapa pekan yang lalu.
“ngopo e!,” kata Eno sengit.
Dan disaat seperti itu Andhika mulai angkat bicara, “wah raseneng aku karo Jelita. Aku cemburu!”.
“Hiiiiiyy!,” kata Oki.
Bel pun berkumandang…

Mau tau kisah jungkir balik si Bowo dalam mengejar Ariani? Silahkan buka http:// www.jamkuda.blogspot.com