Hari yang aneh!

XI IPA1 Story…
“katanya mau belajar bareng? Gimana kalo setiap hari minggu aja? Thx”, sms seperti itu aku kirim ke tiga sahabatku, Catur, Hafidz dan Acil. Beberapa saat kemudian dua dari tiga sahabatku itu kirim sms balik seperti ini; “Terserah, dimana ajah kapan ajah ayuk. Haha oke sob!”, itu dari Catur, beda lagi dari Hafidz; “Woke! Minggu ini aja secepatnya, di rumah Catur”. Fix lah rencana kita. Hari minggu di rumah Catur jam 10-an. Lagian kata Catur hari minggu tanggal 14 maret juga ada acara makan-makan di rumahnya bareng anak ROSE lainnya. Ya udah sekalian aja kami berempat di undang [Aku, Hafidz, Acil dan Dhana].
Hari H telah tiba…
Dua hari yang lalu aku semangat bangett mau belajar bareng teman-teman di rumah Catur. Tapi entah kenapa di hari H aku justru males kemana-mana. Mungkin karena yang dimaksud hari H itu hari minggu ya?
Pagi-pagi sekitar jam sepuluh aku baru bangun tidur HPku sudah terisi banyak banget sms. Dari Catur yang menyuruhku cepat dateng, dari Thifal dan Hafidz yang tanya apakah aku jadi dateng?, dan dari Chalida yang nyuruh jemput dia sama teman-teman lain di 4bhe [karena mereka gak tau rumah Catur], brr!! Belum sarapan, belum mandi pula masa suruh jemput mereka? Ku suruh aja Catur jemput mereka di 4bhe melalui sms. Rawr!
Sekitar pukul 12.30 aku sampe ke kostan Hafidz, setelah menunggu si Hafidz dandan [Gila lama bangett kaya cewek, mungkin karena mau ketemu Thifal ya? hehe] kami menuju ke rumah Catur menaiki motor pinjeman. Ngueeenggg!!!
Aku inget-inget sebentar. Dulu pernah sekali aku main ke rumah Catur tapi sekarang udah lupa. Hehe maklumlah manusia. Melewati stasiun TVRI dan aku mencari-cari ATM BNI [sebagai patokan kerumah Catur], setelah melewati ATM BNI aku mulai memelankan laju sepeda motorku. Hafidz udah tidak sabar di belakangku [kepanasan kayaknya].
“masih jauh gak Dit?”, katanya gak sabar. Tapi setiap ia bertanya aku gak meresponnya. Aku tetap aja mengemudi lurus dan pura-pura gak denger celotehnya si Hafidz. Hingga sampailah kami ke Ring Road [???].
Setelah sampai Ring Road aku baru merespon Hafidz: “Fidz, tau gak? Kayaknya rumahnya kelewatan deh. Hehe”
“brr!!”, lenguh Hafidz. Setelah aku sempat smsan sama Catur dan Hafidz smsan sama Thifal [ihhiyy], kami pun balik kearah selatan dan menemukan gapura yang dimaksud. Gapura itu memaparkan tulisan KUTUPATRAN. Dengan was-was kami memasuki tuh gapura, setelah masuk gang aku baru inget jalan ini. Dan dengan bersemangat kami akhirnya sampai ke rumah hajat. Hehe
Ternyata yang ditakut-takutin Hafidz benar. Bukan hanya Thifal dan Chalida aja yang hadir di situ, tapi ada banyak anak cewek lainnya; Endah, Arumy, Ani, Agustina, Ariani, dan Lita. Dan parahnya anak cowoknya cuman Catur dan kami berdua. Aw aw aw it is woman party. Wow!!! Kata Catur, Acil gak bisa datang.
Ya sudah gag apa-apa, kami berdua mau masuk tapi di dalem cewek semua, ya sudah sebagai cowok kami mengalah hanya di luar. Kami sempat disuguhi minuman sebelum akhirnya kami kabur ke masjid, ngakunya mau sholat dzuhur, tapi akhirnya kami bablas tancap gas pergi membawa fotocopyan kertas tugas biologinya Brisha dan malah pergi nongkrong di warnet (baca: Gemini Net).
Setelah puas dengan kegiatan kami berdua di dalam warnet (baca: rahasia), kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Ealah didalam HP sudah terisi banyak banget sms dari Catur, Thifal dan Aha yang menyuruh kita untuk segera pulang kerumah Catur dengan membawa kertas fotocopyan yang harusnya digandain.
Jadilah kami pulang dari warnet dengan mampir dulu ke tempat fotocopyan, memfotocopy kertas biologi punya si Brisha dan akhirnya kerumah Catur. Hiah si Catur malah marah dan mengusir kami, ia menyuruh kami berdua mengantar bukunya Brisha kerumahnya (karena Brisha emang udah pulang).
Karena kami tidak tau rumah Brisha, kami memaksa Catur untuk mengasih tau, tapi sialnya Catur yang lagi marah hanya bilang; “rumahnya Brisha dari sini belok kiri, trus ambil kanan, abis itu belok kiri lagi, terus kanan, kiri, kanan lagi trus nyampe daah!”. Bzz…
Kami juga marah… rawr! Udah sore tau!
Dengan kecewa kami akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri rumah si Brisha. Kutelpon tuh si Brisha, dengan gak sabar setelah telepon diterima langsung saja ku teriak-teriak; “Bris kamu dimana? Rumahmu sebelah mana? Kok sms ku gak dibales, ayo jawab! Udah sore nih!”.
Lalu orang diseberang dengan suara wanita menjawab : “maaf, Brishanya lagi mandi, ini dengan ibunya”.
Dueeenggg!!!
“oh, iya maaf bu, ini temennya Brisha, nganu, nanti tolong Brishanya suruh bales smsku ya, makasih”, langsung tak mati’in tuh telpon. Rawr!
Setelah si Hafidz mendapat balesan sms yang isinya petunjuk dari si Brisha tentang rumahnya, kami pun segera capcus menuju rumah hajat kedua, dari jalan magelang ke arah selatan, dikiri jalan ada minimarket, sebelah minimarket ada gang dengan nama Kutu Tegal. Kami ambil jalan itu, terus kami telusuri sesuai petunjuk yang di berikan Brisha. Ealah ternyata kami kesasar, petunjuk yang di sms oleh Brisha salah semua! Sial! Aku segera ambil tindakkan untuk menelpon Brisha. Setelah tawar-menawar akhirnya kami mendapatkan peta asli dan sampai di rumah si Brisha.
Alhamdulillah ceritanya selesai!

Beauty and The Beast

XI IPA1 Story…
Alkisah sebuah kerajaan bernama SMA N4 di Yogyakarta akan merayakan lustrumnya yang ke 50, dalam acara ini diselenggarakan berbagai macam acara, seperti lomba, dsb.
Pagi itu disebuah ruang di dalam istana, telah berlangsung sebuah perkumpulan anak pecinta Science yang diberi nama ROSE, anak-anak bangsawan ini sedang asyik menunaikan hobby mereka, yaitu belajar KIMIA bersama penasehat mereka, sebut saja Sir Kustoro.
Ketika bel waktu istirahat berkumandang, Sir Kustoro melantunkan sebuah sayembara, yaitu lomba Mbatik yang diadakan oleh Raja Suradi [SMAN4 Headmaster], setiap kelas wajib mengirim dua tentara untuk diwakilkan dalam lomba Mbatik tersebut.
Dan kelas dari kasta ROSE [yang merupakan kasta paling eksis di istana SMAN4], telah mengirim Beauty and The Beast [baca: Armina dan Aditya], sebagai tentara untuk lomba mbatik… aseeekk!! Aku bersama bidadari yang banyak di buru para pangeran.. wkwkwk
Tibalah di hari H, hari dimana lomba mbatik berlangsung, aku datang tidak tepat pada waktunya, lomba mbatik sudah dimulai, mulailah aku membuat sketh batik bersama sang bidadari di ruang SD, setelah selesai aku mulai memasak gula jawa dan menyanting sketh ku, tentunya bersama sang bidadari, setelah itu baru kumulai menjemur hasil karyaku [masih bersama bidadari], setelah kering mulai ku mewarnai batik karyaku dengan pewarna yang sudah disediakan, ada bidadari di sampingku, setelah mewarnai aku mulai menjemur kembali hasil karyaku ---dengan sang bidadari---
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, ketika ku mulai mengangkat jemuranku, tapi kali ini tanpa si Bidadari, kemana gerangan si dia? Ealah ternyata dia bersama pangeran lain, pangeran yang jauh lebih tinggi kastanya, dengan hati hancur ku berlari keluar meninggalkan hasil karyaku terbengkalai di altar, ku berlari dan mengambil kereta kencanaku, ku terbang ke langit ketujuh, berusaha meninggalkan bidadariku dan mencari bidadari yang lain…
~The End~

Next Ibox!

XI IPA1 Story…
Waktu itu pelajaran HL [baca: High Learning], seperti biasa mapel yang diampu dua guru ini [baca: Mrs. Siti dan Mrs. Nia], harus dibagi dua kelompok dalam sekali jam mata pelajaran. Kelompok pertama belajar dengan Mrs. Nia di Lab HL, dan kelompok dua [Aku, Catur, Hafidz, Aji, Armina, Sofi, Endah, Anindha, Judan, Dimas, Galih, dkk] belajar di kelas bersama Mrs. Siti.
Seperti biasa, pelajaran HL diisi dengan permainan yang segalanya menggunakan bahasa Inggris. Permainan kali ini adalah tebak-tebakan. Jadi seperti ini cara bermainnya; kami duduk di tempat kami masing-masing, lalu Mrs. Siti akan melempar sebuah Tipe-X kearah kami [tidak boleh melihat], kami yang terkena lemparan Tipe-X dari Mrs. Siti harus maju dan Mrs. Siti akan memberikan sebuah kertas yang berisi sebuah kata, siswa yang tadi disuruh maju akan mendeskripsikan kata dalam kertas itu dan menyuruh kita menebaknya, setelah tertebak, siswa tersebut harus berbalik badan [tidak boleh melihat teman-temannya] sementara teman-temannya saling melempar Tipe-X keteman yang lain [tugas si teman yang berdiri adalah berkata ‘next’ semaunya dan di akhiri dengan berkata ‘stop!’], jika si teman yang berdiri berkata ‘stop!’, maka dilihat Tipe-X berhenti dimana, maka disitulah giliran anak lain yang maju. Dan begitulah seterusnya.
Waktu itu Tipe-X yang dilempar Mrs. Siti mengenai kepalaku, jadilah aku maju kedepan dan mendeskripsikan sebuah kata, setelah tertebak, aku berbalik badan [sementara teman dibelakangku saling melempar Tipe-X] dan kuucapkan ‘next’ semauku; “Next! Next! Next! Stop!”.
Tipe-X ku berhenti di bangku Judan, jadilah dia yang maju, setelah dia mendeskripsikan kata bagiannya dan seseorang mengetahui jawabannya, dia mulai melakukan kegiatan seperti yang aku lakukan. Dan ternyata Tipe-X itu kembali berhenti di tempatku, kembali aku maju, seterusnya begitu, setelah ketiga kali aku maju, teman-teman lain mulai berkata; “Next Ibox! Pokoke Tipe-X kudu berhenti nang bangkune Ibox!”.
“ASEM!”

Angkat Tangan

XC Story…
Siang hari menjelang, seperti biasa, kelas XC yang notabennya kipas rusak plus atap tak ada genteng (sekarang sudah dijadikan kelas ekonomi), mulai panas membara bak neraka. Hahahaha.
Tidak dikanan, tidak dikiri, tidak didalam, tidak diluar, semua memegang apa saja yang bisa membuat mereka tidak kepanasan (baca: kipas).
Ketika sedang asyik-asyik bersantai menikmati semilir angin, bel pun berbunyi dan kami dengan keluhan yang sangat malas masuk kekelas XC. Waktu itu pelajaran Kimia Ibu Aska, kami belajar tentang neutron dengan malas, sebagian dari kami ada yang tertidur ada yang kipas-kipas tanpa mendengarkan celoteh Ibu Aska. Maklumlah waktu telah menunjukkan pukul 12.15, ya jelas gak masuk lah mapel kimianya. Bzz..
Aku yang pada waktu itu duduk pas dibawah kipas angin ---yang rusak [tapi masih bisa jalan]--- mulai emosi mendengar suara deru kipas angin yang sama sekali tidak mengeluarkan angin. Rawr!
Ibu Aska masih saja berceloteh tentang Neutron, Elektron atau apalah. Karena sudah gak sabar aku mencoba menggapai-gapai tanganku diudara, berusaha mencari angin yang dibuat si kipas angin, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Setelah kuturunkan tanganku, tiba-tiba suasana menjadi aneh, seluruh siswa XC melihat kearahku, wah eksis mendadak nih, lalu Ibu Aska di tempat duduknya mengganti topik celotehannya;
“ya, Aditya, ada apa?,” katanya.
“ha?,” kataku bingung.
“pie e Box?,” kata Wiby.
“maksudnya?,” kataku tambah bingung.
“lha tadi kamu maksudnya apa angkat tangan?,” kata Dhea.
“oh, nganu…,” kataku bingung. “tadi lagi ngrasain kipas angin”.
“malah pie,” kata Rully.
Bingung? Aku juga! Jadi gini, tadi pas aku angkat tangan untuk mencari angin di kipas angin, ternyata waktu itu juga Ibu Aska sedang mempersilahkan para siswa untuk angkat tangan jika ingin bertanya, lha beliau salah sangka, belia mengira aku angkat tangan karena mau bertanya, padahal lain maksudku. Heheheh

Behind The Project [Kwaru Beach]


XI IPA1 Story...
“Temend temend R.O.S.E jadi touring k pantai siung ya. . Hari kamis kumpul jam 7 ontime di simak. . Ditunggu kedatangannya.” Beberapa teman ROSE (Reinforcement Of Science onE) mengirim sms seperti itu kepada teman-teman lain, tidak terkecuali aku. Berbeda dengan Evi dan Arum, si Bowo Berenda mengirimi sms seperti ini : “ATAS NAMA RPYP AGAN” SMUA JADINYA K PANTAI KWARU (BANTOEL). JAM 8 KUMPUL T4 SIMAK. NEK TELAT TINGGAL. (BOWO IKT). KAG. SEBARKAN.” ---njug ngopo?? Aku gak nyebarin tuh---
Hari H pun jatuh ! Tidak seperti yang diharapkan, jam 8 lebih banyak bangettt hanya ada beberapa butir bocah yang niat-niatnya mengerjakan perintah Berenda dengan berkumpul bersama kebo (Bowo maksudnya) di tempat Simak. Mereka adalah Si Bowo, Catur, Acil, Ariani, Thifal, Ani, Arumy dan Evi (Idjah). Dan setelah tanya-tanya ternyata emang bener segitu anak yang ikut. Sempat diberitahu juga kalo aku orang yang terakhir datang ---jadi maluu--- dan Judan sedang beli bensin ---di Magelang beli bensinnya, lama banget sih!--- sementara itu si Dimas sedang OTW dan kedua manusia dari toli-toli minta dijemput, juga si Anindya yang berada di Arab.
Setelah kedatangan Dimas dan sudah berbaik-baik dengan Simak ---dengan memborong nasinya--- kamipun memutuskan untuk segera berangkat. Dengan Arumy berada dalam dekapan Bowo sang pemimpin, kami pun menuju rumah Toli-toli dahulu ---kecuali Dimas, dia pergi kearah berlawanan, katanya sih nunggu di Tugu---.
Kami pun sampai di rumah sang pengembara (Hafidz dan Dhana aka Toli-toli), aku dan Catur menyerbu mereka dalam kamernya… ealah! Ternyata mereka belum siap-siap. Mereka masih bergumul sambil nopi (nonton tipi). Dengan rayuan gombal kami berdua si Hafidz mulai bergegas, tapi si Dhana tidak terpengaruh dengan rayuan kami. Maka diutuslah Evi (Idjah) dan Arumy ---dengan senang hati--- untuk merayu Dhana. Dhana pun mau… (ihiiy)
Singkat cerita, akhirnya tuh anak ---setelah ditunggu lamaaaa banggett sampe Bowo bilang gini : “adoh! Ganti baju kaya ganti kelamin aja!!”, dan Catur menjawab : “kan mau ketemu Thifal!”--- keluar juga.
Kami siap untuk berangkat ketika salah seorang dari kami nyeletuk gini : “eh, gimana sih Dimas tuh? Katanya dia sekarang di rumah Judan, lha si Judan katanya di rumah si Dimas!”.
“kecrett!!”.
Dengan ---gak tau ikhlas gak--- si Acil merelakan Arumy menghubungi Dimas dengan HPnya. Tapi si Dimas bilang gak jelas. Lalu kami pun menelpon Judan dengan HP yang sama. Catur mulai naik pitam. Tidak tanggung-tanggung ia membentak-bentak Judan diseberang telephone.
Jadi, ternyata Judan dan Dimas ngerjain kami. Mereka sebenarnya berada di tempat yang sama, tapi mereka mengaku berpisah. Akhirnya ujung dari perdebatan sengit antara Catur, Arumy dan Adjudan berujung dengan suatu keputusan yang sangat aneh. Adjudan dan Dimas mengundurkan diri untuk tidak ikut !!! APA !!! Dengan kalap Si Idjah alias Evi turun tangan.
Ia rampas HP Acil dari tangan Catur. Dengan muka garang ia menggentak-gentak Judan diseberang. Seluruh penghuni kebun binatang di absen si Idjah tanpa terlewatkan, termasuk si ASYU yang terkenal sekali di kalangan warga Jawa Tengah dan sekitarnya. Kami merasa aneh saat itu ---padahal udara panas banget, tapi kami serasa membeku--- hehehe.
Setelah si Idjah sang master turun tangan akhirnya si Judan dan Dimas pun menyerah. Mereka akhirnya menyetujui untuk ikut ke pantai Kwaru.
SEPAKAT ---materai 6000---
Selanjutnya kita menuju arab… menemui Anindya
Dalam perjalanan, si Bowo Firosi (Rosinya ROSE), melaju dengan sok-sokan. Akibatnya dia bersama Toli-toli ---yang percaya banget dengan si Kebo--- kesasar entah dimana. Rawr !! udah jam 11 nih ceritanya. Sekarang bukan hanya Catur, Arumy dan Idjah yang naik pitam. Kami pun naik pitamnya. Dengan ikhlas ---diukur dengan penggarisnya Pak Supri--- aku relakan pulsaku untuk menghubungi Kebo (Bowo), dia tidak menjawab. Akhirnya kuhubungi Sandal (Hafidz). Dengan banyak sekali cingcong yang berakibat pulsaku habis akhirnya si Sandal memberitahu keberadaannya. Mereka berada di Jl.M.T Haryono (SMA7). Dengan instruksi dari Anin akhirnya si Kebo sampai juga ditempat Anin bersama dengan dua anteknya. Berangkatlah kami ke Kwaru…
Setelah keteledorannya yang mengakibatkan kehabisan waktu+bensin=capek, akhirnya si Kebo menyerahkan pinpinannya kepada Thifal. Thifallah yang jadi petanya Dora sekarang ---aku peta! Aku peta!--- kamipun berangkat dengan damai.
Astaghfirullah Hal Adzim, kayaknya ada yang gak direstuin nih untuk pergi ke Kwaru. Sampai di Jl. Bantul Km. 4,5 kami dikejutkan oleh Polisi Razia. Kami para kendara sepeda motor disuruh mengambil jalan muter melewati pohon nasi ---sawah dap!--- sementara para kendara mobil terus mengikuti jalur biasa.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dengan sok-sokan Bowo turun dari Vixynya, ia membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya yang kempis. Dengan senyumnya yang marmos ia memberikan STNK dan SIMnya kepadaku. Akulah yang menyerahkan tuh surat2 kepada pak polisi. Sementara itu disisi lain kami, Si Toli-toli kalap. Bagaimana tidak? Ketahuilah teman-teman bahwa mereka berdua tidak mempunyai Surat Izin Mengendara atau yang populer dengan nama SIM. Mereka berdua yang pada waktu itu mengendarai motor mio merahnya Dimas ---yang bunyinya membuat telinga sakit--- sementara itu Si Dimas tertinggal di belakang nun jauh beud, pun kalap. Hahahaha. Mampyuuss lu!! Kami pura-pura gak tau aja ---demi keselamatan bersama lho---
Arumy pun turun tangan. Eits tunggu dulu! Pahlawan kesiangan lu Rum! Ariani Anugrah Putri kalah cepat turun kemedan perang. Dengan sikap seperti Aisyah Binti Abu Bakar, istri sang Rasulullah, si Ariani mengintrogasi Dhana dan mengusir Hafidz: "kamu punya SIM gak?", Dhana menjawabnya dengan gelengan dugemnya. Kembali Ariani bertanya tentang STNKnya, si Dhana memberitahu kalau STNKnya berada di bawah jok. Belum sempat mereka mengambil tuh STNK, salah satu polisi menggiring mereka. Polisi dengan kumis singa laut menagih surat-surat tuh motor. Ariani dengan memperlihatkan bekhelnya sambil bersusah payah menyangga motor Dimas, menyerahkan SIM kepada sang master of jalanan. Ketika giliran ditagih STNK, dengan sigap dan keyakinan penuh, Ariani menjawab begini : "di jok Pak!", padahal pada saat bersamaan si Dhana memberikan STNKnya kepada sang polisi ---ternyata STNKnya berada dalam dompet Dimas yang juga berada dalam Dhana--- Rawr!! Kawuslah Ari... Hehehe
Sementara itu aku dan Bowo merayakan kebebasan kami dengan mengejek Hafidz yang berjalan sendirian tak terurus.. Wakakakak
Setelah lolos dari medan pertempuran bersama kumis-kumis lebat, dengan sok-sokan kembali Bowo mengarungi Jl. Bantul. Membalap Thifal dan Idjah, Catur dan Arumy, dan Acil dan Anin hingga kami pun kembali kesasar di jalan yang menuju Samas, harusnya kami melewati jalan menuju Paris. Ingin ku berteriak "BOWO SESAT BOWO SESAT!!!"...
Alhasil kami berdua ---bersama Ani dan Ari, yang juga tertinggal--- mendapat nikmatnya bau tae Kebo !!! ASYU!!
Sampai di Kwaru!! WUIHH GILA!! SIA-SIA ANE!! PANTAINYA ELEK!!!
begitulah kami... rawr!!

NB : HANYA BERBAGI CERITA SAJA, TANPA ADA UNSUR APA-APA
untuk foto-fotnya bisa minta sama Ari dkk









AA A a Arrgghh...!!

XI IPA1 Story...
Pagi itu aku pergi kesekolah dengan di jemput mobil seperti biasa, sebut saja Jog-Tem alias Jogja-Tempel... Aku menaiki dengan aman, tentram dan damai. Seperti biasa aku agak sedikit deg-degan kalo Jog-Tem yang aku naiki sudah mendekati daerah Wirobrajan. Kenapa? Karena disitulah daerah kekuasaan sang Bidadari yang sangatt cantik, yang bisa menyihir setiap lelaki, termasuk aku. Hehe (baca juga : Ku Ampuni Kau, Jogja-tempel).
Aku berusaha untuk biasa saja. Kebetulan waktu itu aku duduk dibangku nomor dua, pas dibelakang supir. Si Bidadari yang berinisial AA itu juga biasa naik Jog-Tem. Maka dari itu untuk berjaga-jaga, ketika Jog-Temku sudah melewati pasar Klithikan, kepalaku langsung bereaksi. Ku tengok kanan-kiri melalui jendela. Ngapain?? Mencari si AA lahh.
Dan benar saja, sekitar 10meter dari Klithikan, Jog-Temku berhenti. Aku menahan nafas. Kulirik kaca spion, mengawasi siapa yang naik ke Jog-Temku. Segerombolan wanita dengan anggun cekikikan kepada si kenek. Satu persatu dari mereka mulai memasuki Jog-Tem. Namun diantara mereka hanya satu yang menarik perhatianku. Ya! Si AA ada diantara mereka. Kebetulan bangku disebelahku kosong. Aku terus menerus berdo'a semoga AA duduk disampingku.
Daan... Plesek! Bangku disebelahku berbunyi yang menandakan seseorang telah mendudukinya. Perlahan kubuka mataku dan melirik cewek disebelahku.
Ha? Argghh!! Dia bukan AA. Anjlok deehh!! Dengan muka masam kulirik kaca spion mencari dimanakah gerangan si AA dan menemukannya berdiri dekat dengan pintu, dilindungi oleh sang kenek. Rawr!!
Jog-Tem pun berjalan dengan alakadarnya. Pandanganku tidak berhenti memandang kaca spion. Mengawasi Sang Dewi. Barangkali aja tuh kenek macem-macem.
Akhirnya sampailah kami di jalan Magelang dan turun di depan gapura SMA 4Bhe tercinta. Dari situ si AA baru menyadari kalau satu mobil sama aku,,, lagi!!
Gag papa lah gag bisa ngobrol di bis. Tapi seenggaknyakan bisa ngobrol dijalan. Tapi ketika aku mau mulai mengajak ngobrol tiba-tiba...
"AA!"... Ha? Erlin, si sahabat AA tercinta berlari menyusul kami. Dengan innocent ia menggapai AA dan membawanya pergi meninggalkanku sendiri di jalan.. Hiks Hiks.. Kali ini aku tidak mengampunimu Jog-Tem!!! Rawr!!

Cerita pendek banget

XI IPA1 Story...
Suatu hari Bowo bercerita kepada Ariani :
Bowo : Eh eh wingi motorku bar keudanan trus pas di enggo eh bokongku teles og pie [Eh eh kemaren motorku habis kehujanan terus pas di naikin eh pantatku malah basah]
Ariani : Lha salahmu! Ngpo ra numpak bis ae? [Lha salahmu! Kenapa gak naik bus aja?]
Bowo : Wii gah yo!! Ko kwe sneng kro aku! [Wii Gak mau!! Nanti kamu suka sama aku!]
Ariani : &*@%#)!%#!*_#^!&%#!*!%@!#!(*+_$^!(#!(+#&!#+!* {nyesel}



Suatu hari kami selesai mapel Matematika Pak Supri dan berlarian ke ruang Fisika Pak Sabdrun. Saking keburu-burunya dan geli liat lemper lari-lari [nghm idjah], ku tarik aja tuh krudung si lemper. daan jderr... kepala tuh lemper kebentur jendela.. wakakakakkakakakakkakak.. sori