Cinta saja Tidak Cukup!

Pojokk...
Pacaran bertahun-tahun tidak akan menjamin bahwa dia adalah pria yang tepat untuk Anda. Ada pasangan yang hanya butuh waktu 6 bulan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, tetapi ada juga yang perlu waktu bertahun-tahun sampai ke pernikahan. Itu pun, ada juga yang akhirnya bubaran. Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa ia memang pria yang tepat?

1. Teman-teman setuju
Bukan hanya Anda yang yakin bahwa dia orang yang tepat, tetapi juga teman-teman Anda. Namun kalau hanya Anda yang merasakan hal itu, dan teman-teman Anda tidak setuju, berarti ada yang salah. Terkadang cinta bisa membutakan logika dan perasaan Anda; orang-orang di sekitar Anda lah yang bisa berpikiran normal.

2. Kumpul dengan keluarga
Perkenalkan pasangan dengan keluarga Anda, dan lihat apakah ia bisa dengan mudah bergabung dengan orangtua dan saudara-saudara Anda. Memang tak semua orang bisa langsung akrab dengan orang yang baru dikenal, namun amati juga apakah ia cenderung menghindar.

3. Ia mendengarkan
Hidup adalah dua kesatuan yang harmonis. Ada kalanya Anda mendengarkan, atau dia yang mendengarkan. Tetapi kalau Anda hanya berfungsi sebagai pendengar, maka komunikasi tidak akan berlangsung dua arah. Ingatlah bahwa komunikasi adalah fondasi dari hubungan Anda.

4. Punya tujuan yang sama
Anda ingin menikah, dan ia ingin bersenang-senang? Sampai kapan pun Anda berdua tidak akan seiring sejalan. Satukan tujuan ke depan, akan dibawa kemana hubungan itu? Apakah hanya sebatas bersenang-senang, atau berlanjut ke arah yang lebih serius?

5. Ia bisa jadi teman dan sahabat
Ini keuntungan lain saat Anda punya pasangan yang bisa diandalkan sebagai teman dan sahabat. Fondasi ini lebih kokoh ketimbang hanya menjadikan ia sebagai pecinta.

6. Percaya
Anda percaya padanya. Tanpa kepercayaan maka suatu hubungan tidak akan pernah langgeng, sebab Anda akan saling curiga dan mengekang satu sama lain.

7. Merasa spesial
Anda masih merasakan hal yang sama seperti saat pertama berjumpa dengannya, seperti perhatiannya yang tak berkurang, atau kesetiaannya yang tetap teruji. Hal ini merupakan pertanda kalau Anda adalah orang yang spesial baginya.

8. Membicarakan masa depan
Saat Anda mencari Mr Right, maka Anda juga harus memposisikan hal yang sama, bahwa ia mencari Mrs Right. Artinya, ia juga memiliki sejumlah komitmen untuk menjalani kehidupan yang saling mendukung bersama Anda, pasangannya.

9. Merasa terlindungi
Melindungi, bukan hanya secara fisik namun juga secara finansial. Jika ia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri bagaimana nanti ia bisa menghidupi Anda dan anak-anak? Cinta saja tidak cukup; Anda harus mampu bersikap realistis!

10. Jadilah apa adanya
Jadilah diri Anda apa adanya agar ia juga mencintai diri Anda seutuhnya, lengkap dengan segala kekurangan Anda. Jika ia tidak mencintai Anda apa adanya, maka tidak alasan Anda untuk terus bersamanya karena unsur "di kala susah dan senang" tak Anda miliki.

source : KOMPAS.com

Ku Ampuni Kau, Jogja-Tempel!!

XI IPA1 Story...
Sejak sepeda kesayanganku hilang, aku berangkat sekolah dengan naik bus umum. Dari tempat tinggalku ada tiga macam bus yang bisa sampai ke jalan Magelang. Pertama Jalur 5; sekitar 1 kilometer dari tempat tinggalku, tempat yang biasanya di lalui si Jalur 5. Kedua Jalur 15; hanya beberapa meter dari tempat tinggalku, dan Ketiga Jalur Jogja-Tempel; sekitar 1 kilometer.
Dulu biasa menggunakan Jalur 5, tapi terlalu lama nunggunya, jadi telat terus, sementara jalur 15 harus keliling Jogja dulu, jadi terlalu jauh dan lama untuk sampai ke SMA 4, jadilah aku memilih Jogja-Tempel atau yang di kenal dengan sebutan Jogtem.
Pagi itu seperti biasa, bangun ± pukul 05.00 WIB. Setelah aktifitas yang tidak bisa di sebutkan secara detail disini, aku pun pergi ke jalan raya (ha? ngapain), nunggu Jogtem mau kesekolah lah. Seperti biasa lamanya minta di ampuni daah... Zzz
Setelah sekitar 15 menit kemudian akhirnya tuh Jogtem dateng juga. Alhamdulillah masih punya waktu setengah jam lagi, semoga aja gag telat. Naiklah aku dengan tuh Jogtem.
Biasanya kalau naik Joktem pagi-pagi aku seneng banget, soalnya biasanya ketemu sama dia (yang berinisial AA), tapi kali ini biasa aja tuh. Kenapa? Karena aku yakin pasti sesuatu yang di nanti itu kemungkinannya kecil untuk kenyataan (menurutku lho), soalnya biasanya kalo aku ngarep ketemu dia malah gag ketemu, dan sebaliknya kalo aku gag ngarep ketemu dia pasti ketemu.
Jogtem melaju dengan kecepatan rata-rata melewati Jokteng (Pojok Benteng) dan berhenti di situ, ihh lama!! Marmut (Marai Mutung) tenan kih bus! kenapa harus berhenti sih! Gak tau po kalo anak sekolah itu mlebu jam 7??!! Bzz... Pointku udah banyak gara-gara telat tau!! *Shit!!!
Beberapa saat kemudian tuh Jogtem melaju lagi dengan kecepatan seperti semula, melewati Jalan Bugisan dan menuju ke daerah Wirobrajan...
Deg...!!!!
Biasanya sampai di derah ini aku mulai deg-degan, soalnya udah deket daerah target. Wakakak. Tapi kali ini kok biasa aja ya.
Jogtem itu berjalan dengan lembek, sang supirnya yang marmosi tenan santai-santai ae, Dasar! gag sensitive!! zzz
Bus itu melaju mendekati daerah pasar Klithikan. Aku sedang menggerutu sebal ketika bus itu berhenti di sekitar Klithikan. Dan dengan anggun sesosok Bidadari berkerudung putih menaiki busku.
Glekk!!
That is my dreamgirl..!! Oh my God. Please take me out from here!! Dadaku mulai berdegup kencang seperti kata Dewa 19...
Bidadari berinisial AA itu sedang bingung mencari tempat duduk, dan kebetulan tempat dudukku di belakang masih kosong. Ia berjalan kearah tempat dudukku dan...
"Adit!", katanya terkejut.
"hei, AA", sahutku salting. ia duduk di sebelah kananku dengan grogi. Sementara bus kembali melaju menuju tempat tujuan.
Waah!! Jarang-jarang bisa duduk bareng dia. Di kelas aja dia gag mau kalo aku duduk di sampingnya. Gak tau kenapa. Padahal sama cowok lain dia mau. Bzz!! Anti-Adit paling ya? haha.
Aku bingung mau ngapain. Akhirnya dia yang ngajak bicara duluan (Beh!! Malu-maluin aku tuh).
"eh, Dit ada PR gag sih?", katanya dengan tatapan masih lurus kedepan. Gag tau kenapa, malu paling ya.
"Ha? nganu! kayaknya gag ada deh, AA", jawabku blepotan.
"oh".
Waah!! Biasanya kami kalau ketemu di bus gag ngobrol, soalnya duduk jauh-jauhan. Tapi kali ini bisa ngobrol. Wakakakak. Ini semua berkat kau Jogtem!! Ku ampuni kau!!!

NB : Gag percaya?? Terserah!! Tanya aja sama si AA!! Wakakak...

Rahasia Di Balik Tragedi Berdarah Buber part I

XI IPA1 Story...
Kisah ini terjadi bulan puasa kemaren (01 september 2009) dan awalnya dimulai di dalam kelas XI IPA1 tercinta saat mapel kimia berlangsung. Kelas kimia waktu itu benar-benar parah; Kami terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada kelompok yang perhatiannya tertuju ke ibu Kimia (?), ada yang tiduran (kelaperan paling), dan ada yang ngerumpi (aku masuk ke kelompok ngerumpi). Tapi ngerumpiku cuman bisik-bisik sama Catur, Aji (Baim), Agung (ABK) dan Acil.
Pelajaran Kimia telah usai…
Tiba-tiba saja kami disuguhkan ajakan Buber oleh Agust Titin dan kawan-kawan, aku langsung tertarik dan mendaftar untuk ikut. Aku pun memaksa Catur, Aji, ABK dan Acil untuk ikut buber juga, dengan rayuan gombalku Catur dan ABK tertarik. Haha. Jadilah sore itu kami sepakat kumpul di 4B.
Singkat cerita. Sebagian anak XI IPA1 sudah ada disitu; Titin, Bowo, Anindha, Andre, Dimas, Breggy, Ariani, Endah, Evi, Arum, ABK, Catur, Lita, Nungki dan aku…
Kami pun berangkat ke Jejamuran (tempat makan yang sudah kami sepakati). Bowo yang memimpin dengan Vixion-nya. Aku sering dengar ceritanya Catur tentang ngetrek-nya dia dengan Bowo (Bowo kalah terus), tapi terakhir ngetrek Catur lah yang kalah, disini rupanya Catur akan menunjukkan kejantanannya, ia akan membuktikan kepada Bowo kalau Vixion bisa kalah dengan Revo! Haha. Lain cerita dengan si ABK; aku gag tau apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas sepertinya ia ingin menunjukkan kepada kita kalau ia pun bisa naik motor dan lebih hebat dari kita. Dan tau gak apa rencanaku? Dulu pas kelas satu, kami anak XC mengadakan Holiday ke paris dan aku sempat mengalahkan Bowo dalam perjalanan kami dengan membalap motornya. Disini aku sudah tau si Bowo sudah ganti motor dan aku ingin menunjukkan kalau motor Mio (welah!) bisa mengalahkan Vixion!!! Wakakak.
Laskar XI IPA1 (Laksis) berangkat menyusuri sepanjang jalan Magelang. Ngetrek di mulai. Aku mulai mengejar Bowo! Dan Bowo tidak mau kalah, ia semakin mempercepat lajunya, Catur dan ABK juga mengejar si Vixy! Jadilah kami saling salib-menyalib…
Kami sudah melewati Ring Road, aku terus mengincar si Vixy! Sementara Catur dan ABK juga mengincar kami di belakang, saat itu kami tidak melihat anggota Laksis lainnya. Ketika pandanganku fokus ke Bowo tiba-tiba…
Sebuah mobil menghalangi jalanku! Shit! Aku belok ke kiri dan sialnya disebelah kiri mobil itu ada motor (gag tau ngapain, mau nyebrang ato bunuh diri) berhenti ditengah jalan. Karena kecepatanku expres banget aku jadi kagok, aku langsung menginjak rem kaki (what? Rem kaki? Aku gak punya rem kaki! Sejak kapan Mio punya rem kaki?), dengan keburu-buru ku tarik rem tangan mio, tapi tidak keburu. Bagian depan motorku menabrak motor sinting itu.
Diuarrr…. Terjadilah apa yang dinamakan teori bigbang ke2…
Aku terpental seperti bola basket yang tak tau arah dan mendarat di aspal yang terasa lembek bagiku waktu itu. aku memandang berkeliling, tapi semuanya terasa aneh, berbayang-bayang dan berwarna hijau. Kepalaku pusing! Samar-samar kudengar suara seseorang merintih, aku mencari asal suara itu, tapi aku gak mengerti, suara itu seperti berasal dari mulutku, dan ternyata benar! Akulah yang merintih. Kulihat berkeliling dan aku merasakan langit turun ke bumi dan saat itu aku menemukan sebuah batu raksasa yang bisa bergerak-gerak di depanku…
Catur???
Aku baru sadar. Aku menemukan diriku ditengah-tengah jalan raya sedang duduk dan didepanku yang kukira batu adalah Catur? Ha? Kok Catur? Perasaan tadi aku nabrak motor lain dan catur berada di belakangku… aku benar-benar tidak mengerti.
Dengan merasa bersalah banget aku berkata kepada Catur; “Maafkan aku tur…” (???)
Setelah sadar sepenuhnya kutemukan diriku di kelilingi banyak orang. Kulihat keadaanku yang sangat berantakan. Pakaianku robek semua. Kalian tau gak apa yang terlintas di pikiranku saat itu? ada dua; pertama, “aduuh bakal di marahin mamah sama bapa nih”, kedua, “aduuh nyesel aku mbalap Yoga (Bowo), waah aku udah ngecewain teman-teman”…
Aku di bantu warga sekitar minggir ke trotoar. Setelah sampai di trotoar aku mulai merasakan perasaan aneh. Sekujur tubuhku sakit semua. SAKIIT BANGETT!!! Kaki, tangan, kepala udah kaya mayat, penuh dengan darah. Dengan merintih-rintih aku mulai di perdebatkan oleh Agust Titin, warga sekitar dan teman-teman seperjuanganku lainnya. Ada yang mengusulkan untuk membawaku ke Puskesmas, ada yang menyuruh di bawa ke PMI, dan ada yang menyuruh di bawa ke RS (karena lukaku cukup parah).
Sementara mereka berdebat sengit, seseorang memberikan segelas air kepadaku. Ia menyuruhku membatalkan puasaku. Tapi aku gag mau. Tanggung tau tinggal beberapa menit lagi kok. Ketika aku menolak gelas berisi air putih itu tiba-tiba air nya berubah warna menjadi merah. Ha? Darah dari daguku menetes ke gelas itu, dari situlah aku tau betapa parah lukaku… daguku bocor dan harus di jahit.
Aku mendengar kesepakatan mereka untuk membawaku ke PMI cabang Sleman. Sebagian orang ngacir memanggil mobil ambulance. Aku benar-benar terharu dengan teman-temanku. Disitu aku meneteskan air mata (tak beri tahu sebuah rahasia, aku nangis bukan karena sakit, tapi karena terharu), teman-temanku menghiburku, aku benar-benar merasa bersalah kepada mereka semua. T.T
Kami sedang bersedih ria, ketika seorang warga sekitar ada yang nyeletuk suruh cepat membawaku pergi kalau tidak polisi akan segera datang. Disitu aku benar-benar bingung sama Titin. Aku yang habis kecelakaan kok dia yang kalap. Mungkin gara-gara denger kata ‘polisi’ ya? haha. Dan kami pun mulai beres-beres untuk segera pergi (?).
Bersambung…

Mau tau kisah selanjutnya? Apakah yang akan terjadi dengan Laksis? Nantikan kisah berikutnya... Wakakak...


NB : Ngetrek disini bukan ngetrek beneran, cuman iseng-iseng aja. Catur dan Bowo rumahnya searah, jadi pulang sekolah mereka lakukan untuk balapan siapa yang lebih dulu sampai rumah dialah Firosi (Rosi-nya XI IPA1)

Gje

XC Story...
Pagi itu aku sampai sekolah lebih dulu dari si Gaple' [Kisah XC], beberapa menit setelah aku duduk di bangkuku, si Gaple' muncul dan dengan bunyi kedubrag dia duduk di bangkunya bareng Fahmi. Dengan memegangi perutnya ia melenguh; "Adooh wetengku loro!!!".
Aku yang berada di dekatnya otomatis mengimbangi; "Wii wetengku telu Yog!!"...
Bowo ; (*&^%$@*()&^&%#....

BTW bener juga tuh si Bowo wetenge loro... hehehe.. peace!!

Kisah Sedih Di Malam Minggu

Les Story...
Kisah ini berawal dari pembicaraan kecil didalam ruang les… Hafidz, Dhana dan aku. Kami sepakat malam minggu tanggal 31 januari 2010 itu kami akan ke JEC (Jogja Expo Centre), kebetulan malam itu di JEC sedang ada pameran. Dhana sampai rela meninggalkan janjinya dengan Judan, Andre dan Ilham demi pergi ke JEC bersama aku (weh?). Les hari itu sepi, menurut kami. Kenapa? Karena Acil tidak hadir. Katanya sih sedang ikut lomba. Okelah! Kami yang biasanya berjalan-jalan di akhir pekan bersama Acil, kini kami harus merelakan menyusuri jogja tanpanya.
Jadilah setelah selesai sholat maghrib di tempat les kami pun sepakat akan pergi malming ke JEC. Dan berhubung tanpa Acil, maka kami pun pergi menaiki Trans Jogja.
Singkat cerita, kami pun sampai di halte Trans Jogja di SMP1. Jujur saja ini pertama kali aku naik Trans Jogja, jadi sedikit agak banyak grogi gitu, hehe. Kami membeli tiket dan menunggu Trans Jogja dengan duduk-duduk di kursi yang sudah disediakan. Sambil menunggu Trans Jogja kami asyik bercerita tentang kisah cinta. Mulai dari kisah cinta Hafidz dan Dhana baik di Jogja maupun di Toli-Toli, sampai kisah cintaku di XI IPA1 (wakakak).
Dan Trans Jogja pun muncul. Dengan grogi aku naik mobil dingin berwarna hijau itu. Aku duduk di sisi sebelah kanan jika dilihat dari depan (hanya yang pintar yang dong), diapit Hafidz dan Dhana. Kami benar-benar takut kesasar, maklum lah kami kan bukan orang asli Jogja dan aku sama sekali belum mengenal Jogja bagian Utara sampai Barat. Hafidz dan Dhana sedikit syok ketika mendengar bahwa aku tidak mengenal baik Jogja bagian tersebut. Tahu gak? Biasanyakan aku yang jadi peta Jogja mereka (wakakak). Namun, akhirnya Dhana mengingat perjalanan panjangnya bersama Bowo ketika date di JEC (cieee… !!! ihhiiiiyy…). Kami pun lega.
Sampai di halte Janti kami harus berganti bus, tapi gak papa kan cuman bayar Rp.3500. Kami pun tersenyum senang karena gak kesasar. Horee!! JEC, we are coming!!
Sampailah kami di JEC. Rame bangett… seru dah pokoknya. Kami pun masuk dengan membeli tiket seharga Rp.2500. Di dalam kami sedikit bingung apa yang harus kami lakukan. Banyak banget alat-alat elektronik yang menggiurkan. Apa yang harus kami lakukan? Nyuri? (Astaghfirullah Hal Adzim). Dhana yang mempunyai keinginan membeli laptop pun mulai mengunduh brosur dari sebuah stan. Aku tertarik. Kuikuti jejak Dhana. Begitupun dengan Hafidz. Jadilah kami malming dengan berlomba mengumpulkan brosur dari setiap stan di JEC. Aku dapat 36 brosur dari stan yang berbeda-beda(wakakak).
Setelah puas melihat-lihat dan mendapatkan berlembar-lembar brosur dari berbagai stan kami pun memutuskan untuk pulang. Kebetulan waktu juga sudah menunjukkan pukul ± 20:15. Dengan agak panik karena takut Trans Jogjanya tutup kami pun ngacir ke halte JEC. Alhamdulillah kami masih mendapat kesempatan naik Trans Jogja lagi.
Seperti biasa kami disuguhkan istilah ‘waiting is boring’. Daripada benar-benar boring gara-gara waiting lebih baik online (OL) facebook. Tapi HP ku mati (Innalillahi… ), maksudnya lowbath. Jadilah hanya mereka berdua yang OL. Disela-sela OL, kudengar Hafidz bergumam sesuatu yang seperti: “sebentar lagi kita akan menempuh perjalanan panjang”. Setuju !... bangett
Trans Jogja datang. Kami masuk. Kali ini aku tidak grogi, kan udah biasa (hehe?). Dalam kegembiraan kami tiba-tiba sang kenek bertanya, “mas kalian mau turun dimana?”.
Dhana menjawab, “semsat (SMP1)”.
“wah, busnya gak sampai kesana tuh. Ini cuman sampai ke Tamsis (Taman Siswa)”. What the doggy Style??? Bayangkan aja, jarak dari Tamsis ke SMP1 berapa kilo tuh? Mau naik apa coba? Udah malem. Masa jalan kaki? Kempolku iso gedhe kih!!!!
Ckckck. Nek aku wani musti tuh kenek wis tak antemi!! Sayang tenan, kwe beruntung nek, aku ra wani (peace^^). Pasrah dah! Malam itu kami akan melakukan perjalanan panjang. Panjang banget, gak tau berapa kilo tuh kami gak sempet ngitung pake rumus matematika.
Ternyata bener ya, bahwa setiap perkataan yang kita katakan adalah sugesti. Suatu saat nanti pasti akan terjadi. Perjalanan ini benar-benar panjang seperti apa yang sebelumnya di ramalkan Hafidz.
Kami turun di halte Tamsis dengan lesu…
“kayaknya tadi malam aku gak mimpi apa-apa dah”, celetukku kepada Hafidz dan Dhana. Dhana tertawa terbahak-bahak. Untung aja Malioboro rame! Kalau gak mesti kami males jalan.
Kami pun mengawali perjalanan panjang kami dari Malioboro. Aku baru sadar populasi wanita tak berkerudung di Jogja lebih banyak dari wanita berkerudung (Alhamdulillah cewek yang kusukai berkerudung. Hehe^^).
Demi segera sampai di rumah, kami rela mendapatkan tantangan bertubi-tubi: kabut yang membuat perut sakit yang dibuat oleh orang yang berteriak-teriak, “satee.. satee!!”, bisingnya suara pluit, “piiip.. piip, parkiiir sini!!”, dan masih banyak lagi.
Kaki kami benar-benar sakit. Yeah gak apa-apalah itung-itung cuci mata di malam minggu (welah!). Dengan melewati Malioboro, Stasiun Tugu, sampai kembali ke Pingit sambil jalan kaki kami pun akhirnya sampai ke “Our Final Destination”; Kontrakan Hafindz dan Dhana.
Dan disinilah akhir perjalanan kami…
NB : Acil maafkan kami…
Catur maafkan kami juga, ini rencananya mendadak sih…

Hantu Kamar Mandi???

Kisah Lama...
Ini adalah pengalamanku. Pengalaman ini terjadi ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas VIII. Waktu itu selain ikut pelajaran formal, aku juga ikut pelajaran nonformal alias les. Tapi aku cuma mengambil les bahasa inggris. Karena menurutku hanya pelajaran bahasa inggris sajalah yang jeblok nilainya (sok-sokan… hehe^^).
Aku ikut les bahasa inggris di sebuah tempat les yang namanya rahasia (welah). Tempat les itu merupakan tempat les bahasa inggris terbesar di Cirebon. Gedungnya sangat besar dan tingginya mencapai tiga lantai. Selama dua tahun aku ikut les di tempat ini aku belum pernah menjelajahi seluruh isi gedungnya. Dan kisah ini terjadi di dalam gedung les ku…
Pukul 16:00 a.m, aku sudah duduk di dalam ruang 6 yang merupakan ruangan khusus kelas VIII SMP. Ruangan itu terletak di tengah-tengah gedung di lantai 3 dan tanpa jendela, sehingga jika tidak ada AC-nya aku yakin akan sangat panas.
Semua teman lesku sudah datang: Mario, Jafry, Raydinald, Fadil, Lutfi, Hafidz, Dimas, Selvi, Tria, Litanya, Rani dan Si kembar Tiara dan Tiesya. Kelas dimulai setelah sang tentor datang…
Satu jam kemudian…
Pukul 17:00 a.m kami semua keluar dari ruang 6. Kami (Mario, Jafry, Raydinald, Fadil, Lutfi, Dimas dan Hafidz) memutuskan untuk nginep di rumah Mario, untuk membahas tentang club kita yang bernama C2HP (Club Cinta Harry Potter [waguu!!]). Kebetulan besok juga hari minggu, jadi kami bisa bermain sepuasnya.
Setelah keluar dari ruang 6, dalam perjalanan turun kami tidak berhenti membicarakan Harry Potter hingga tanpa sadar kami berjalan entah kemana… weh? Kami kesasar !!!
Ruang besar tempat berdiri kami saat itu begitu asing. Kami belum pernah kesitu!! Bahkan Jafry beranggapan kami kesasar ke dimensi lain (halah! Maklum masih lugu, kan baru kelas VIII SMP. Hehe!). tapi kami mengelak dan menasehatinya supaya tidak keseringan nonton film horror.
Dengan perasaan yang sedikit panik kami berusaha menjelajah ruangan itu dan mencari jalan keluar. Kami berlari mengikuti arah koridor sambil berpikir keras kami tadi lewat mana? (anehnya pada saat itu kami benar-benar lupa kenapa kami bisa berada di situ).
Ketika kami berjalan cukup lama sampai hari mulai gelap dan koridor mulai remang-remang kami akhirnya menemukan perempatan. Aku tahu! Aku pernah lewat sini, Raydinald dan Hafidz juga tahu, jika kami ambil koridor kiri maka kami akan sampai di Mushola, jika ambil kanan kami akan sampai ke ruangan les komputer (selain bahasa inggris, lembaga ini juga menerima les komputer) dan jika lurus?? Diantara kami tidak ada yang tahu akan menuju arah mana jika kami mengambil koridor di depan kami yang sudah gelap gulita!!!
Disaat kami bermusyawarah untuk mencapai mufakat (halah!), tiba-tiba kami di kejutkan oleh suara? Ya! suara! Tapi bukan suara kami. Suara seorang anak kecil batuk. Kami mulai merinding. Mula-mula yang mendengar suara itu si Hafidz, tapi Fadil dan Lutfi yang berada di dekatnya segera mengetahuinya juga, lalu kami menjadi pendengar yang terakhir.
Tanpa berkata apa-apa, kami mulai berteriak khas anak-anak innocen dan berhamburan berlari menyelamatkan diri masing-masing. Seingatku, aku, Mario, Lutfi, dan Fadil mengambil jalan lurus. What??? Dan yang lainnya entah kemana. Yeah! Kami berpisah.
Kami berhenti ditengah-tengah jalan. Entah berhenti karena capek atau takut nabrak. Koridor itu benar-benar gelap. Gelap gulita. Mula-mula kami tidak bisa melihat apa-apa, tapi lama-kelamaan kami mulai terbiasa dengan kegelapan di sekitarnya. Kami sekarang bisa melihat dalam kegelapan. Kami berada pas didepan pintu sebuah ruangan yang sangat asing. Dan dalam kegelapan itu Mario menemukan stop kontak. Dengan tidak sabar kami mulai berebut memencet stop kontak itu. ha? Gak nyala!! Shit!! Rusak apa mati lampu ya??
Kami mulai menangis, bukan menangis sedih tapi menangis takut. Dalam kegelapan itu kami duduk bergerombol di koridor gelap itu dan samar-samar terdengar suara hujan. Rupanya diluar hujan deras. Aku benar-benar sangat nyesal waktu itu. kenapa tadi gak langsung pulang aja. Aku juga berpikir sebenarnya ini tempat les atau gedung kosong sih?? Sepi, gelap dan menakutkan.
Dalam keputus asaan kami, tiba-tiba lampu menyala!
Waduh! Ternyata tadi mati lampu. Kami tertawa terbahak-bahak…
“waah kamu habis nangis ya?”, tuduh Lutfi kepada Fadil.
“lha kalo aku nangis kenapa? Kamu juga mukanya basah!”, kata Fadil.
“aduuh aku pengen pipis (kencing)”, kataku. Mario yang berada di sampingku juga kebelet kencing. Di saat seperti itu kami sadar ternyata pintu di dekat kami itu adalah toilet cowok. Alhamdulillah!! Kami pun ngacir masuk kedalam toilet. Toilet itu sangat bersih. Ada 4 bilik di dalamnya, dan cermin besar berbentuk persegi panjang tergantung di dinding di atas westafel yang berlawanan arah dengan bilik-bilik tersebut.
Tanpa berpikir panjang aku ngacir masuk ke bilik pertama, Mario menyusul di bilik kedua. Aku mulai membuka retsletingku dan … kencing. Samar-samar aku mendengar Fadil dan Lutfi ngobrol di luar. Mereka terlihat sangat asik. Tapi tiba-tiba saja Fadil menjerit!!! Dan aku mendengar suara kaki mereka berlari menjauh. Mereka keluar meninggalkanku sama Mario!
Spontan aku membereskan diri dan keluar. Bilik kedua yang berisi Mario pun terbuka. Mario berdiri disana.
“mereka kemana?”, kata Mario.
“gak tau”, kataku, “ayo pergi”.
“sebentar…”.
“ada apa?”.
“kamu dengar gak? Dengar gak!!”, gertak Mario.
“dengar apa?”, kataku bingung.
“sstt!!”. Mario menyuruhku diam. Aku menurut. Dengan sedikit takut aku mencoba mendengar suara yang di maksud Mario. Dan benar saja! Samar-samar aku mendengar suara, suara seorang (atau bukan orang) perempuan terisak. Aku mulai merinding. Mario yang berada disampingku mulai mengambil ancang-ancang untuk lari. Aku benar-benar takut!! (serius lho ini kisah nyata!!). aku pengen nangis, tapi gak tau nangis karena takut atau sedih mendengar suara itu.
“udah ahh, mungkin itu suara cewek yang baru diputuskan pacarnya, aku sering dengar cerita Selvi tentang cewek-cewek yang suka nagis di kamar mandi sekolah”, bisik Mario dengan suaranya yang gemetar (Mario dan Selvi satu sekolah di SMP6 Cirebon). Aku lega. Mudah-mudahan aja itu benar-benar suara cewek, manusia maksudku.
Kami pun memutuskan untuk pergi mencari yang lainnya. Ketika kami keluar dari kamar mandi, Mario memekik, aku terlonjak. Benar-benar kaget.
“kamu ngapain sih? Ngagetin aja!!”, gertakku.
“kamu lihat!”, kata Mario, “inikan kamar mandi cowok! Ngapain tuh cewek di dalam??”.
Aku tersentak. Tanpa banyak bicara aku dan Mario berlari ke arah sebelumnya. Menyusuri koridor dan akhirnya menemukan perempatan yang tadi. Di situ kami menemukan Jafry dan yang lainnya (kecuali Fadil dan Lutfi). Ternyata tadi ketika mendengar suara anak kecil batuk, mereka berlari ke Mushola. Lalu setelah itu aku pun sholat di Mushola dan kami pun pulang kerumah Mario.

Hari les berikutnya…
Kami mendengar cerita Fadil dan Lutfi. Ketika di dalam kamar mandi (menurut cerita mereka_ entah benar atau bohong_), mereka berdua melihat seorang cewek berpiama putih memasuki bilik ke 4, padahal jelas-jelas mereka tidak melihat cewek itu masuk ke toilet, kan mereka berdiri pas di dekat pintu masuk sementara pas kami masuk kesitu, toilet itu kosong.
Dan ketika aku dan Mario keluar dari bilik masing-masing, kami tidak melihat ada cewek baik di bilik 4 maupun bilik 3, kami hanya mendengar suara cewek terisak entah dari mana, yang jelas didalam kamar mandi itu…

NB: kalian mau percaya atau tidak, terserah… !!! yang jelas kisah ini benar-benar terjadi. Ini merupakan pengalaman paling manakutkan dalam hidupku… hiiyyy

Nostalgia part II

XI IPA1 Story...
“Aku : Eh eh inget gak pas pertama masuk XI IPA1 terus upacara?
Acil : Gatau
Aku : Kamu jadi apa Toer?
Catur : Ho’o inget inget!! Aku jadi Pleton 2 terus pake muts. Haha
Aku : terus kita balik kekelas ngambil apa gitu eh malah ketemu pak Rudi ma anak baru. Hehe!
Acil : [Lupa]
Catur : Yup! Aku tau terus dari pelajaran pertama sampai terakhir suruh perkenalan terus. Inget muka mereka lucu banget.”

Cerita selengkapnya seperti ini :
Senin pagi itu merupakan hari pertama masuk sekolah di kelas XI IPA1. Kebetulan kelas kamilah yang bertugas upacara bendera. Kami mulai berkumpul di lapangan mempersiapkan segala sesuatunya. Aku yang pada waktu itu bertugas sebagai penjemput mulai mengingat-ingat tugasku. Sementara XI IPA1 yang hanya bertugas sebagai PS (Paduan Suara) enak-enakan bergurau di sisi lain lapangan. Bzz!
Upacara akan segera di mulai ketika Catur yang bertugas sebagai pleton 2 ribut minta di antar kekelas gara-gara salah bawa topi [harusnya pake muts], untung aja Pak Priyo gak tau. Ya udah deh aku nganter dia kekelas, toh pada waktu itu juga si Acil pinjem topi, ya udah dah sekalian aja. Hehe. Jadi kami bertiga dengan sedikit keburu-buru bergegas kembali kekelas XI IPA1.
Sampai disana kami bertemu dengan Pak Rudi beserta dua orang anak adam yang sebaya dengan kami, sebelumnya kami tidak pernah melihat wajah mereka. Ash! Aku tidak peduli dan langsung masuk saja. Sementara si Catur dan Acil malah ngobrol sama Pak Rudi, gak tau ngomongin apa. Setelah urusan kami selesai. Aku keluar dan Pak Rudi mencegat kami dan menyuruh kami membawa dua anak asing itu seraya berkata; “ini teman baru kalian dari Sulawesi, di ajak upacara ya?”.
“Oh iya pak”, kata Catur.
“eh Dit tar ngambil Kartu Pelajar yuk ma Pak Rudi”, bisik Catur kepadaku sambil melirik sinis kearah Pak Rudi yang sudah menghilang di balik ruang Wakasek untuk bersiap-siap Upacara, sementara si Acil sedang berkenalan dengan dua manusia dari Sulawesi itu.
“Catur, mau kenalan nih”, kata Acil kepada Catur. Aku dan Catur pun berkenalan dengan dua manusia itu. Aku bersalaman dengan manusia pertama yang bermata sipit dan berwajah cina dan berambut landak, sekilas wajahnya culun, malu-malu dan memelas, ketika tangannya menyentuh tanganku rasanya basah, namanya Hafidz. Dan satu manusia lagi bermata sipit juga, tapi tidak berwajah cina, tatapannya kuat dan tegar, model rambutnya mirip-mirip sama model rambut Ayushita, namanya Dhana.
Setelah berkenalan kami bertiga mengajak tuh dua orang manusia dari Sulawesi ke lapangan Upacara… Itulah awal pertemuan kami berlima.
Singkat cerita. Upacara selesai…
Kami berhamburan kembali kekelas masing-masing. Dua anak dari Sulawesi tadi duduk terasing di bangku paling belakang, sekilas aku merasa kasihan sama mereka, tapi apa boleh buat aku juga malu mau kenalan sama mereka. Hehe^^ Peace!!
Akhirnya si Aji alias Baim berinisiatif berkenalan dengan mereka berdua. Setelah itu pelajaran pertama masuk [aku lupa pelajaran apa]. Karena kami males belajar, kami [terutama Aku, Acil, Catur, Aji sama ABK] berteriak-teriak kepada gurunya mempromosikan Hafidz dan Dhana. Hahahah. Itu pertama kalinya mereka di kerjain oleh kami. Karena ulah kami seisi kelas akhirnya menyadari keberadaan mereka berdua dan menyuruh mereka berkenalan di depan kelas. Hahahaha
Hari berikutnya pun sama, jadi selama kurang lebih seminggu kami ngerjain mereka berdua dengan berteriak-teriak like this; “PAK/BU, ANAK BARU PAK/BU!!! KENALAN PAK/BU!!! BELUM KENALAN LHO!!”. Wakakakak…

Itulah awal persahabatan kami, tapi akhir-akhir ini:

1. “Acil : Eh kwe coba ndelok FB ku, nang kotak status FB kae lho
Aku : Kotak apa toh? Aku ra dong. Status?
Acil : Udu status, lha yo status ding, tapi bukan yang di wall. Reti? Sing nang kotak kae lho
Aku : Sek sek… Oh ya ya aku reti, ngopo emang?
Acil : status kotakku isine persahabatan-persahabatan kyo ngono. Coba kwe ndelok FB ku
Aku : Yo mengkeh
Acil : Wah masa kita pisah sih? Berarti cuman tinggal kita berdua?
Catur : Kwe karo Hafidz toh? Alah ya wis ayo mulih-mulih Dit!!
Acil : ???
Aku : Maaf Cil, Catur Cuma bercanda kok”

2. “Catur sama Hafidz lagi musuhan nih ceritanya…
Catur : [membuang muka dari Hafidz]
Aku : kamu sama Hafidz kenapa sih?
Catur : Gak tau!
Aku : Aneh e! aku sering ngejek kamu tapi kita baik-baik aja. Lha sama Hafidz kok malah pie?!
Catur : Lha kamu Cuma ngejek, udah biasa aku. Dia tuh nyebai!! Ra dongan!”

3. “Aku : Fidz, [sensor]!!!
Hafidz : Wii jangan ngaco kau! Kalo gitu kita nanti musuhan!
Aku : Weh weh weh?? Ngopo to yo!! Ra dongan!!
Hafidz : Lha tadi itu?
Aku : Sok tau!”

4. “Aku : Masa XI IPA1 berakhir, persahabatan kita berlima juga berakhir?
Catur : Gak tau! Kok jadi gini? Aku sedih tau!
Acil : Hem jangan menyerah! Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik!
Hafidz : Jadi terharu Dit! Tenang aja Dit, persahabatan kita berlima pasti tak akan pernah berakhir. Aku juga sudah merasakan kok waktu aku tinggalin banyak teman di Toli-toli!
Aku : Plagiat!! Itu kata-kataku tau!!
Hafidz : Hehe
Acil : Jangan pernah membenci seseorang yang sudah menjadi bagian masa lalu mu, karena perpisahan bukanlah sebuah permusuhan, tapi jadikanlah kenangan yang terindah sejak kau bersamanya.
Aku : P*c**ii Sweet…!!! [nyebut merek]
Catur : Ketoke berat pisah sama kamu, Acil ma Hafidz.
Aku : Kok Dhana gak disebut?
Catur : Ho’o po? Ho yo Dhana juga. Hehe. Besok kelas XII kita sekelas gak ya?
Aku : Gak tau, eh tau gak kalian tuh sahabat pertamaku. Teman aku punya, tapi kalo sahabat itu jarang. Hoho
Hafidz : Woke tenang aja, kita tetap bersahabat kok, sampai kapan pun.
Aku, Hafidz, Catur dan Acil : Fiuh!”.

S = Satu
A = Aib
H = Hanya
A = Akan
B = Bersih
A = Apabila sahabat
T = Tidak berkhianat